Melanjutkan aksi sebelumnya di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat (14/10) lalu, terkait dengan Ucapan AHOK yang menghina Alquran, Gerakan Nasional Pendukung Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) akan
kembali menyelenggarakan aksi membela Alquran. Acara ini rencananya akan diikuti oleh ormas-ormas Islam yg berasal dari berbagai daerah, baik itu dari Jakarta maupun luar Jakarta, rencananya akan dilakukan Jumat, 4 November 2016.
Kegiatan aksi damai ini akan dimulai dengan shalat Jumat di Masjid Istiqlal dan dilanjutkan longmarch
ke Istana Negara. Mereka menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja
Purnama segera diproses secara hukum. "Sekarang 'bola' ada di tangan
Bareskim, fatwa MUI pun sudah didapat. Jangan sampai ada intervensi
dalam kasus ini," ujar Sekretaris Komisi Dakwah MUI Fahmi Salim kepada Republika.co.id, Selasa (25/10).
Seruan
nasional tersebut hendak memberikan edukasi kepada seluruh umat, negara
dan para pemangku kepentingan agar jangan meremehkan kasus penistaan
agama karena masuk dalam delik pidana umum. Artinya, ada ataupun tidak
ada aduan, tetap akan diproses.
Aparat kepolisian pun diharapkan
tidak berbelit-belit dan memprosesnya sesegera mungkin. "Kalau tidak
diproses secara hukum yang dikhawatirkan umat Islam bergerak secara
individual atau ada upaya street justice. Ini berbahaya," kata Fahmi.
Umat
Islam ingin penyelesaian kasus tersebut lewat konstitusional namun
harus cepat, sigap, dan jangan diperlambat. Pasalnya, kata dia, bukti
dan saksi sudah ada sehingga tidak ada alasan bagi kepolisian tak
menetapkan Ahok sebagai tersangka. Tuntutan aksi tersebut sejalan dengan
hukum.
Fahmi mempersilakan umat Islam hadir dalam aksi
tersebut. Namun yang perlu digarisbawahi adalah seruan tersebut
merupakan aksi damai dan tidak anarkistis. "Mari jaga momen kondisi
sebaik mungkin, jangan anarkistis dan tetap berada di koridor hukum,"
ujarnya.
Dia memprediksi jumlah peserta akan lebih besar
dibanding aksi sebelumnya. Ini merupakan kesadaran kolektif umat Islam
dan tidak terbatas hanya warga DKI semata. Hal itu menunjukkan bahwa
aksi ini tidak terkait ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI
Jakarta. Beberapa tokoh yang rencananya juga hadir diantaranya Habib
Rizieq Shihab, Ustaz Bachtiar Nasir, Didin Hafidhuddin, dan Yusril Ihza
Mahendra.

